Arti Kehidupan yang sesungguhnya ialah Bersiap-Sedia untuk Mati

Pengantar

Sekarang usia saya telah memasuki lima tahun lebih daripada setengah abad. Dan saya rasa telah masuk akal bagi saya untuk memahami bahwasannya sesungguhnya bahwa arti kehidupan yang sesungguhnya ialah bersiap-sedia setiap saat untuk mati.

Alasan pertama, karena setiap orang yang pernah lahir harus dan pasti mati.

Alasan kedua, karena ternyata saya tidak berkuasa menghindarkan dan menghindari satu barang ini, yang bernama kematian.

Kematian yang beruntun, saya angkat tangan

Memang saya telah mempraktakkan usaha-usaha sebagaimana diajarkan oleh berbagai pihak di gereja untuk menghindarkan keluarga saya dari kematian. Akan tetapi ternyata banyak tokoh orang Walak telah meninggal dunia.

Anak saya sendiri, Joshua Lea Karoba Tawy telah meninggal dunia 22 Juni 2020. Ayah saya, Rev. Emeritus Ki’marek Karoba Tawy meninggal dunia tanggal 06 Agustus 2021. Untuk kedua orang Karoba ini, saya lakukan doa-doa, berpuasa, dan berdoa, begitu mencapai batas kebiasaan saya. Akan tetapi saya mengaku, saya gagal menahan mereka hidup.

Anak dari kaka saya meninggal 26 Mei 2021. Dia-lah salah satu yang saya andalkan untuk menjadi enterpreneur Papua.

Tante saya yaitu, adik dari ayah saya meninggal September 2020. Kakak saya yang selama ini mendukung dalam perjuangan saya meninggal dunia 16 September 2020. Secara khusus saya bersama dia selama hampir 4 bulan, menahan dia agar tidak meninggal, dan terus berdoa, dan berdoa dan berdoa, dan berpuasa.

Jauh sebelum itu pada akhir tahun 1994, saya baru saja wisuda dari Universitas Cenderawasih, dan saya selama itu telah pasti menjadi dosen di Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, Jurusan Bahasa dan Seni, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Saya tentunya bangga dan bergembira mau sampaikan kabar baik itu. Karena satu-satunya orang yang berjuang keras menyekolahkan saya ialah sang ibunda, Lawingga Yikwa-Karoba. Akan tetapi apa terjadi? Begitu saya tamat, beliau meninggal dunia.

Pada tahun 2017, adiknya yang menikah dan menetap di Maros, Johathan Kio Yikwa, setelah saya barus saja sekolahkan anak-nya perempuan satu-satunya, dan tamat perguruan tinggi dengan gelar Sarjana Ekonomi, dia berpulang tiba-tiba.

Belum lama setelah itu, salah satu paman saya yang mendampingi aku selama ini, Nasikerei Yikwa, atau Yukeli Yikwa juga meninggal dunia. Dia 20 tahun lebih muda dari saya, oleh karena itu saya sangat berharap beliau termasuk orang yang harus melanjutkan apa yang sedang saya perjuangkan saat ini. Tetapi ternyata ia malah telah mendahului-ku.

Pada saat ayah saya sakit juga saya telah lakukan doa dan puasa. Akan tetapi semuanya tidak berhasil. Pada kakak saya Yikwanak Elly Togotly sakit juga saya datng tinggal bersamanya, melakukan ibadah setiap malam, berdoa setiap malam sampai selama 3 bulan lebih. Tetapi akhirnya ia meninggal dunia juga.

Lalu saya bertanya, “Apa artinya semuanya ini?”

Jawaban datang tiba-tiba dari seorang hamba Tuhan beberapa menit setelah pertanyaan saya muncul, bahwa waktu Tuhan ialah mutlak dan final, tidak dapat diganggu-gugat, oleh karena itu, yang harus kita lakukan ialah mengucap syukur atas segala hal, termasuk atas kepergian anak, ayah, saudara dan anggota keluarga ku sendiri.

Saat saya menulis catatan ini, kakak saya, Maria Karoba Gombo ada terbaring di opname, terkena stroke. Teman sekelas dan sedarah saya, bernama Peter Tabuni juga terserang stroke di salah satu rumah sakit Evangelical Church of Papua New GUinea (ECPNG) di Western Province, Papua New Guinea.

Saya berusaha berdoa seperti yang saya lakukan saat anak dan ayah saya sakit. Akan tetapi akhirnya saya menyerah. Saya saat ini katakan, “Kehendak-Mu-lah yang jadi, bukan kehendak-ku, akan tetapi saya sebagai anak-Mu masih berhak untuk menyampaikan petisi ini kepada-Mu, YHWH.

Di akhir daripada semua cerita ini, saya kembali kepada judul di atas, bahwa apapun yang kulakukan, apapun yang kudoakan, apapun yang kuinginkan, sebagai usaha untuk tetapi hidup, sebagai usaha dalam kehidupan, sebagai upaya mencapai cita-cita, satu-satunya hal yang pasti dan mutlak yang harus kuingat dan kuterima mutlak pula, ialah bahwa saya pasti dan harus mati.

  • Itulah arti kehidupan! Kalau tidak, maka apa?

Saya akan mati, karena saya sedang hidup! Tanpa saya hidup, kematian tidak akan pernah kuketahui dan kualami.

Dan yang terakhir, dan terpenting, ialah siap untuk mati kapan saja, setiap saat! Dan lebih terakhir lagi, saya harus mengantisipasi dan bergembira-ria bahwa kematian itu satu-satunya hal yang pasti dan harus saya alami setelah kelahiran dan kehidupan ini.

Sem Karoba Tawy

Published by melanesianews

Free West Papua is Free Melanesia, News and Information Updates on and from Melanesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create your website with WordPress.com
Get started
%d bloggers like this: