Design a site like this with WordPress.com
Get started

Mengampuni dan Mendoakan Pengampunan bagi Orang Indonesia adalah Perintah Allah

Pembuka

Saya telah lama bergumul di dalam Tuhan, melihat diri sendiri dan dunia ini dari berbagai macam sudut, ruang dan waktu. Saya telah mengalami apa yang kita sebut “zaman batu”, “zaman perubahan”, “zaman berkembang “, dan “zaman post post modern” atau zaman diri yang telah teraktualisasi.

Saya menyebutnya secara bergilir dunia 1, dunia 2, dunia 3 dan dunia 4. Lalu saya tambahkan dunia 5 sebagai sebuah dunia fusion dari dunia 1 dan dunia 4, di mana dalam putaran siklikal ini terjadi pertemuan dunia post post modern dengan dunia zaman batu, dan dalam gesekan dan interaksi itu sedang melahirkan dunia yang baru, dunia yang terbarukan, dunia yang disebut dalam berbagai retorika modern sebagai adil-makmur di Indonesia dan dalam konteks global prosperous and peaceful.

Hubungan 4+1 Dunia dengan Pengampunan untuk Indonesia?

Hubungannya tidak keluar, terkait phenomenon yang terlihat oleh mata, akan tetapi lebih kepada noumenon, yang ada di adlam diri saya sendiri, pribadi saya sendiri, yang memandang, mendegar, melihat, dan memahami diri sendiri, dunia saya dan di luar dunia saya.

Pada saat saya berbicara secara macro tentang sejarah kehidupan manusia dari dunia 1 sampai dunia 4 dan fusi antara dunia 1 dan dunia 4 yang sedang terjadi saat ini, dipaksakan terutama oleh fenomena pemanasan global yang berakibat perubahan iklim, secara micro saya mengaca juga ke dalam.

Hasilnya terlihat jelas bahwa apa yang ada di luar sana, yang saya lihat dalam kategori dan kelompok, adalah pantulan daripada apa yang sebenarnya terjadi di dalam diri saya, di dalam hati saya di dalam pribadi saya. Dengan dalil ini, maka untuk merubah atau memandang atau memahami atau mengartikan dunia ini, maka lensa sorot dan mata saya juga patut disesuaikan, sehingga saya mampu memahami phenomenon, sehingga mendekati noumenon.

[Dalam buku “Demokrasi Kesukuan: Melacak Silsilah Demokrasi Modern”, saya membahas panjang lebar tentang teori Immanuel Kant tentang phenomenon dan noumenon. ]

Secara micro, secara pribadi, kemajuan diri saya harus saya ukur dari sejauh mana saya memberikan respon kepada apa yang terjadi pada diri saya dan kepada sekitar saya, sesuai dengan identitas saya, yaitu seorang Papua, seorang gunung Papua yang terpelajar dan seorang Kristen Melanesia.

Maka untuk melihat dunia saya dan dunia sekitar secara jernih, saya harus membersihkan diri, lensa hati dan pikiran saya harus saya bersihkan. Kotoran yang paling mengganggu saya hari ini ialah perihal dinamika dan interaksi saya sebagai orang Papua dan bangsa Papua dengan orang Indonesia, bangsa Indonesia dan Negara Indonesia.

Maka untuk meloloskan diri saya dari jerat ruang dan waktu yang bersifat sementara dan fana, saya harus keluar dari ruang itu, ke ruang dan waktu yang terlepas dari identitas duniawi, ikatan duniawi, attachment dengan apapun yang duniawi.

Maka setelah meloloskan diri, saya dalam kesendirian pribadi nurani saya, melihat dengan jelas, bahwa untuk saya mampu terlibat dalam proses fusi antara dunia 1 dan dunia 4, dalam rangka menciptakan dunia 5, maka saya harus mengampuni, melupakan, dan memberkati semua orang.

Semua orang itu termasuk dan terutama orang-orang yang mengusik identitas dan eksistensi pribadi dan kelompok saya orang Papua, orang Kristen, orang Melanesia di pulau New Guinea.

Adalah Perintah Tuhan untuk Mengampuni

Murid Yesus meminta Yesus mengajarkan cara berdoa. Maka ini doa yang Yesus sendiri ajarkan kepada murid-murid-Nya. Kita ambil dari Lukas 11:2-4.

11:2 Jawab Yesus kepada mereka: “Apabila kamu berdoa, katakanlah: Bapa, dikuduskanlah nama-Mu; datanglah Kerajaan-Mu. 11:3 Berikanlah kami setiap hari makanan kami yang secukupnya 11:4 dan ampunilah kami akan dosa kami, sebab kamipun mengampuni setiap orang yang bersalah kepada kami; dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan.”

https://alkitab.sabda.org/passage.php?passage=lukas%2011:2-4*#n1

Ayat empat mengatakan, “dan ampunilah kami akan dosa kami, sebab kamipun mengampuni setiap orang yang bersalah kepada kami”. Siapapun akan memahami dengan sederhana, cepat, jelas dan tepat, bahwa

  1. Sebelum saya meminta pengampunan dari Allah, saya harus sudah mengampuni setiap orang yang bersalah kepada saya.
  2. Artinya, kalau saya belum mengampuni orang lain yang bersalah kepada saya, saya tidak boleh dan karena itu tidak berhak meminta pengampunan dari Allah.
  3. Dengan demikian Allah tidak akan pernah mengampuni saya kalau saya tidak mengampuni sesama saya terlebih dahulu.

Itu hanya tentang permintaan pengampunan. Saya berpendapat hal yang sama berlaku untuk permintaan-permintaan yang lain.

Matius 5:23 dan 24 berbicara tentang memberikan persembahan dan berdamai dengan sesama, bahwa sebelum saya berdamai dengan sesama, saya tidak berhak untuk memberikan persembahan kepada Tuhan atau saya dilarang, atau persembahan saya tidak diterima.

23 Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, 24 tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu.

Matius 5:23-25: <https://www.bible.com/id/bible/306/MAT.5.24.TB&gt;

Oleh Karena itu Saya Mengampuni-mu Indonesia dan NKRI

Saya sudah lama berbicara terbuka di depan banyak orang seperti ini,

“Dosa satu-satunya yang akan saya bawa masuk surga ialah dosa sikap tidak terima dan dosa penolakan saya terhadap orang Indonesia di Tanah Papua dan NKRI di West Papua, karena mereka datang tanpa diundang, dan lebih dari itu, mereka telah membunuh banyak makhluk di Tanah Papua, termasuk manusia Papua dan sanak-keluarga saya sendiri, bahkan di depan mata saya sendiri.

Sepertinya saya menjadikan dosa tidak mau mengampuni ini sebagai sebuah kebanggaan membela bangsa dan tanah leluhur saya.

Saya telah bertobat beberapa waktu lalu, dan saya telah meminta maaf kepada Tuhan, setelah saya mendoakan pengampunan bagi Indonesia: orang Indonesia pada umumnya, orang Indonesia Kristen, hamba-hamba Tuhan dan gereja-gereja Indonesia dan Negara Indonesia.

Hal itu saya lakukan bukan dalam rangka lain, selain daripada memenuhi perintah Allah, yaitu agar saya diampuni, dan agar persembahan saya berkenan di hati Tuhan.

Di atas dari kedua alasan ini, saya mengampuni karena saya sebagai orang Kristen telah memilih untuk memikul salib Kristus, mengikuti teladan-Nya. Bagi saya, teladan puncak yang patut saya tiru tertulis:

Yesus berkata: ”Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.”…

Lukas 23:34 TB <https://www.bible.com/id/bible/306/LUK.23.34.TB&gt;

Yesus memerintahkan saya lewat perbuatan-Nya di kayu salib, untuk berdoa kepada Allah saya, Bapa saya di sorga, “ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat!”

Penutup

Saya mengundang semua orang Papua untuk mengampuni dan mendoakan:

  1. Gereja-gereja di Indonesia;
  2. Hamba-hamba Tuhan dan pejabat gereja di Indonesia;
  3. Jemaat setempat dari gereja-gereja di Indonesia dan para anggota jemaat semuanya;
  4. Orang Indonesia pada umumnya dan semuanya.

Mari kita doakan dan ampuni mereka. Alasan utama dan pertama karena mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat. Alasan kedua karena agar saya diampuni, saya harus mengampuni sesama. Dan alasan terakhir agar persembahan saya diterima, yaitu persembahan diri dan harta dan tenaga dan waktu saya untuk Tuhan, maka saya terlebih dahulu harus berdamai dengan sesama.

Advertisement

Published by melanesianews

Free West Papua is Free Melanesia, News and Information Updates on and from Melanesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: