Design a site like this with WordPress.com
Get started

Tuduhan Bahwa Saya Membantu Mathias Wenda (OPM) Saya Alami Tahun 2000

Sekarang tahun 2022, bulan Augustus saya menulis catatan pengalaman ini oleh karena adik saya secara umur, dan secara keturunan ialah moyang saya, Ricky Ham Pagawak, sang Bupati Mamberamo Tengah, tempat asal kami bermuda, saat ini telah melarikan diri ke Papua New Guinea, negara pulau New Guinea yang telah Merdeka di sebelah timur pulau ini karena beliau dituduh telah melakukan korupsi dana di kabupaten yang dipimpinnya.

Menariknya pada tanggal 9 dan 10 Agustus 2022 telah beredar berita dari penjajah NKRI bahwa Dandim Jayawijaya, A. Murib ialah orang yang membantu sang Bupati malarikan diri ke PNG.

Kedua cerita ini mengingatkan saya kembali apa yang telah terjadi pada diri saya tepat bulan Desember 2000, yaitu 22 tahun lalu di West Papua.

Pada waktu itu saya barusan pulang dari studi di Inggris, menyelesaikan beasiswa dari the British Council.

Sayapun menghadiri rapat dosen pertama di Universitas Cenderawasih. Saya disambut baik oleh para dosen saya, yang kini telah menjadi teman mengajar. Saat rapat berakhir, ada satu dosen, yang tadinya sebenarnya saya tidak bersahabat baik, dan sekali waktu telah mengusir saya dari ruangan kelas, mendekati saya dan mengatakan seperti ini,

Paca, saya tidak mau lihat ko punya muka lagi dalam rapat dosen ataupun dalam kampus ini, karena ada orang di kampus ini, termasuk yang ada dalam rapat ini, dari program studi kami sendiri, orang Papua sendiri, yang nanti Juan ko dan akan bunuh ko. Jadi saya minta ko keluar dan selesaikan pendidikan Doktoral sekaligus, baru masuk kembali. Jangan pulang sekarang. Pokoknya jangan pulang sekarang. Ko sudah dicap sebagai kaki tangan atau jantung dari Mathias Wenda, OPM dorang.

Dibahasakan kembali oleh Sem Karoba, 2022

Selama 20 tahun lebih saya telah tahu bahwa posisi saya memihak kepada aspirasi membela penderitaan bangsa saya di satu sisi. Hal ini terutama disebabkan oleh nurani saya yang telah mengetahui harus bersikap sebagai satu-satunya orang Koteka yang menjadi dosen di Universitas Cenderawasih waktu itu (1996-2000); akan tetapi di sisi lain saya menyatakan bahwa saya juga diusir oleh praduga dan spekulasi opini yang menyatakan bahwa orang Wamena pasti mendukung Mathias Wenda dan orang Wamena pasti anggota TPN/OPM.

Saat ini, saya membaca berita Dandim Jayawijaya Colonel Penerbang Murib juga dicap sebagai oknum yang terlibat dałam melarikan Ham Pagawak

Pada hal setahu saya Ham Pagawak sendiri menceritakan bahwa beliau melarikan diri karena dia menyusul langkah kakak-nya, yaitu saya sendiri, karena selalu dituduh oleh NKRI sebagai OPM, sebagai pendukung TPN/OPM, dan terakhir sebagai koruptor. Padahal Ham Pagawak telah mempertaruhkan segala-galanya untuk NKRI, telah mempertaruhkan segalanya sebagai tenaga pengajar di Universitas Cenderawasih.

Dari pengalaman ini, saya mau ingatkan kepada semua orang Papua, baik itu pantai, pesisir, pedalaman, pegunungan dan pulau-pulau bahwa kita sebagai orang Papua akan tetap selama-lamanya dicurigai dan dicap sebagai pendukung TPN/OPM, apapun yang kita lakukan, tidak akan pernah menghapus curiga dan stigmatisasi itu.

Ada orang Papua yang berharap bahwa dengan berteriak menerima Otsus dan pemekaran dan dengan cara mendukung semua program NKRI, maka mereka akan dilindungi NKRI dan selamat dari stigma TPN/OPM. Mereka berharap, dan kita Judah saksikan mereka juga berdoa, bahwa NKRI tetap tinggal di Tanah Papua dan menjadi penguasa di sini. Mereka perdoa agar semua orang pendukung Papua Merdeka bertobat dan bergabung ke pangkuan ibu pertiwi.

Wahai Manusia bangsa Papua, saya mengundang Anda semua berpikir secara akal sehat, berpikir dari hati-nurani, berpikir dalam pikiran Roh Kudus, berpatokan kepada pengalaman. Kita harus sådär, bahwa yang akan mengakhiri semuanya ini hanya ada satu jalan, yaitu “kemerdekaan West Papua dari NKRI”.

Saya berdoa kiranya NKRI dan orang-orang Indonesia yang memerintahkan Dandim Jayawijaya untuk mengawal Ham Pagawak dari Bokondini ke Jayapura, dan yang telah menjemputnya di Bandara Sentani dan yang mengawal dia sampan ke Papua New Guinea tidak mengkambing-hitamkan Dandim Jayawijaya sebagai orang tulus, yang telah patuh atas perintah atasan tidak menjadi tumbal dalam rangka menyelamatkan perwira di Provinsi yang telah memerintahkan dirinya.

Kiranya Tuhan Yesus Kristus, yang telah menjadi tumbal bagi kita orang berdosa, membela dan membenarkan para pihak yang selalu disalahkan, dikambing-hitamkan, ditumbalkan dan dikorbankan.

Kiranya Tuhan Jesus Kristus turun tangan langsung menyelamatkan bangsa Papua dari penjajahan dan tekanan NKRI.

Dalam nama Allah Bapa, Allah Anak dan Allah Roh Kudus! Amin!

Published by melanesianews

Free West Papua is Free Melanesia, News and Information Updates on and from Melanesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: